Cara menolak tanpa merusak hubungan
5 menit bacaDiperbarui
Penolakan yang jelas dan cepat jauh lebih murah daripada "mungkin" yang lama-lama berubah jadi diam. Ini susunan kalimatnya.
Hampir semua penolakan yang menyakitkan berawal dari "mungkin" yang sopan. Permintaan datang, menolak terasa tidak enak, jadi balasannya mengambang — "nanti saya lihat dulu", "mungkin bulan depan" — dan orang itu mulai menyusun rencana dengan mengandalkan Anda. Ketika akhirnya Anda menolak, mereka sudah membuang waktu.
Seluruh keterampilannya ada di menaruh penolakan di depan. Kata "tidak" di baris pertama yang dilembutkan sesudahnya jauh lebih baik daripada "tidak" di baris terakhir setelah tiga paragraf basa-basi.
Empat bagian penyusunnya
- Ucapkan terima kasih, satu anak kalimat saja. Bukan satu paragraf.
- Katakan tidak, tanpa ambigu, di dua baris pertama. "Saya tidak bisa mengambil ini" lebih baik daripada "sepertinya saya kurang bisa".
- Beri satu alasan, atau tidak sama sekali. Jangan daftar panjang — daftar mengundang tawar-menawar satu per satu.
- Tawarkan satu hal yang benar-benar bisa Anda lakukan, atau tidak usah sama sekali. Jangan mengarang hiburan yang tidak Anda maksud.
Alasan itu opsional. "Saya tidak bisa mengambilnya sekarang" sudah merupakan kalimat utuh. Orang terlalu banyak menjelaskan karena ingin penolakannya terasa pantas, padahal tiap tambahan penjelasan adalah bahan baru untuk dibantah.
Menolak pekerjaan tambahan
Di kantor, penolakan terkuat bukan "saya sibuk" — semua orang sibuk. Yang kuat adalah mengembalikan pertanyaan soal prioritas kepada orang yang memang berhak memutuskannya. Penolakan Anda berubah menjadi keputusan yang memang bukan milik Anda.
Menolak klien atau pelanggan
Di sini risikonya terdengar seperti kebijakan, bukan seperti manusia. Sampaikan batasnya sebagai fakta tentang situasi, bukan aturan tempat Anda bersembunyi, lalu langsung sebutkan apa yang mungkin dilakukan. Pelanggan jauh lebih menerima "tidak, tapi ini yang bisa saya lakukan" dibanding penolakan mentah, walaupun hasil akhirnya sama.
Menolak ajakan teman
Godaannya adalah mengarang alasan karena terasa lebih halus. Padahal tidak — alasan ada masa berlakunya, lalu permintaan yang sama datang bulan depan dan Anda perlu alasan baru. Menolak dengan hangat tanpa alasan lebih tahan lama dan, anehnya, lebih menghargai.
Kalimat yang diam-diam berarti "iya"
Kalimat-kalimat ini terasa seperti penolakan bagi yang menulis, tapi terbaca sebagai peluang bagi yang menerima. Kalau maksud Anda tidak, tidak satu pun dari ini berarti tidak.
- "Nanti saya cek dulu ya" — padahal Anda sudah tahu jawabannya.
- "Saya usahakan" — terbaca sebagai komitmen, dan Anda akan ditagih.
- "Mungkin akhir bulan" — tanggal yang pasti mereka tanyakan lagi.
- "Saya bukan orang yang paling tepat" — mengundang mereka membantah, dan mereka akan membantah.
- "Kalau tidak ada orang lain, ya sudah saya saja" — ini "iya" dengan jalan memutar.
Kalau mereka mendesak
Ulangi penolakan yang sama dengan kata-kata yang sama. Jangan menambah alasan baru — alasan baru menandakan alasan pertama bisa ditawar dan membuka lagi percakapannya. Nadanya tetap hangat, isinya tidak bergeser.
Kalau Anda memang bisa mengiyakan dengan syarat tertentu, sebutkan syaratnya secara persis: "Bisa kalau Desember" atau "Bisa kalau bagian pelaporannya dilepas." Persetujuan bersyarat itu berguna. Yang samar hanyalah penolakan yang lebih lambat.