Formal atau santai? Menakar ragam bahasa saat membalas
5 menit bacaDiperbarui
Balasan yang terasa janggal biasanya bukan salah isi — melainkan salah jarak. Begini cara membaca ragamnya dan menyesuaikan diri.
Kalimat yang sama bisa terasa pas atau konyol tergantung ke mana ia mendarat. "Yth. Bapak Prasetyo, semoga email ini menemui Bapak dalam keadaan sehat" terdengar wajar untuk pendekatan pertama ke pemasok, tapi agak mengkhawatirkan sebagai balasan WhatsApp ke rekan sebelah meja Anda kemarin.
Kabar baiknya, Anda jarang perlu menebak. Pesan yang Anda terima adalah spesifikasi untuk balasannya, dan membacanya cukup sepuluh detik.
Yang perlu dibaca dari pesan masuk
- Sapaannya. "Yth." plus nama lengkap menetapkan satu jarak; nama depan saja menetapkan jarak lain; tanpa sapaan sama sekali jarak ketiga.
- Panjang kalimat dan tanda baca. Titik dan huruf kapital menandakan pesan yang dipikirkan; huruf kecil semua dan tanpa tanda baca menandakan kecepatan.
- Penutupnya, atau ketiadaannya. "Hormat saya" dengan blok tanda tangan adalah medium yang berbeda dari pesan yang berhenti begitu saja.
- Kata gantinya: saya/Anda, saya/Bapak-Ibu, atau aku/kamu. Ini penanda paling terang dan paling sering diabaikan.
- Salurannya. Email masih menoleransi formalitas yang tidak lagi ditoleransi ruang obrolan, apa pun kata-katanya.
Samakan, jangan melebihi. Satu tingkat lebih formal daripada penulisnya terbaca sebagai jarak yang sopan. Dua tingkat lebih formal terbaca sebagai rasa tidak senang, dan orang langsung menangkapnya.
Isi yang sama pada tiga jarak
Berikut satu kabar — keterlambatan satu minggu — ditulis untuk tiga penerima berbeda. Informasinya persis sama; selebihnya tidak ada yang sama.
Kenapa ini lebih rumit dalam bahasa Indonesia
Dalam bahasa Inggris, ragam bahasa sebagian besar soal sapaan dan bentuk singkat. Dalam bahasa Indonesia ia melekat pada tata bahasa, dan salah pilih jauh lebih kelihatan: aku/kamu versus saya/Anda, pakai atau tidaknya Bapak dan Ibu di depan nama, serta apakah kalimatnya mempertahankan imbuhan penuh atau jatuh ke bentuk sehari-hari yang terpangkas.
- Saya + Bapak/Ibu dengan nama: pilihan aman untuk siapa pun yang lebih senior, dari luar, atau belum dikenal. Tidak ada yang pernah tersinggung karenanya.
- Saya + Mas/Mbak dengan nama depan: jalan tengah untuk rekan sejawat dan yang setara.
- Aku + kamu: teman, dan rekan kerja yang sudah lebih dulu memakainya kepada Anda.
- Yang lebih senior yang menetapkan ragamnya. Ikuti mereka, dan jangan turun tingkat sebelum mereka turun.
- Tulis sudah, bukan udah, dalam apa pun yang dikirim ke klien. Bentuk terpangkas selalu terbaca sebagai obrolan, di mana pun ia muncul.
Tiga hal yang merusak ragam bahasa
- Template formal yang ditempel ke aplikasi obrolan. Sapaannya saja sudah mengumumkan bahwa pesan itu tidak ditulis untuk orang yang membacanya.
- Istilah korporat yang mengambang di pesan personal — "follow up ya", "biar aligned", "sesuai email saya sebelumnya" — dalam catatan untuk satu orang.
- Permintaan maaf berlebihan di balasan profesional. Terbaca sebagai belum berpengalaman, dan justru membuat pembaca mengira ada yang salah.
Kalau Anda benar-benar tidak yakin harus seformal apa, tulis versi netralnya: kalimat utuh, sapaan dengan nama, tanpa pembuka template, tanpa bahasa gaul. Itu tidak pernah menjadi jawaban yang salah — sesekali hanya menjadi jawaban yang datar.